by

Sinopsis Film ‘A MAN CALLED AHOK’, Masa Kecil Ahok dan Perjuangannya di Belitung

-SELEB-144 views

Liputanviral – Kisah mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama atau yang biasa disapa Ahok bisa disaksikan lewat sebuah film biopik bertajuk A MAN CALLED AHOK. Menariknya, film yang diadaptasi dari buku karya Rudi Valinka ini tak mengulas soal kejayaan dan keterpurukannya saat menjabat di DKI Jakarta namun justru menyorot soal masa kecilnya di Belitung Timur.

A MAN CALLED AHOK mengisahkan soal kehidupan masa kecil Ahok (Daniel Mananta) di Gantong, Kepulauan Belitung Timur. Pekerjaan ayahnya yang seorang pebisnis tambang membuat kehidupannya saat kecil tidak pernah merasa kekurangan.

Hingga di tahun 80an, praktik korupsi di Indonesia semakin merajalela. Ayah Ahok, Tjung Kim Nam, pun merasakan betul pahit getirnya saat berada di situasi rumit. Karena pengalamannya tersebut, ia menginginkan Ahok menjadi seorang dokter karena dianggap bisa memberikan pengaruh baik kepada orang lain.

Namun Ahok yang sedari kecil sudah melihat sendiri bagaimana kejinya praktik korupsi yang merugikan ayahnya justru menginginkan hal lain dengan terjun sebagai politikus. Ia ingin bisa membawa perubahan dan memperjuangkan hak banyak orang. Dari situ lah awal mula sepak terjangnya dimulai. Bagaimana kehidupan Ahok di masa lalu? Temukan sendiri jawabannya di film A MAN CALLED AHOK yang sudah tayang di bioskop kesayangan.

Meniru Suara Ahok

Daniel Mananta mendapat porsi besar di film terbarunya yang bertajuk A MAN CALLED AHOK. Berperan sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama atau yang akrab disapa Ahok, Daniel pun serasa mendapat tantangan baru. Lantaran memiliki warna suara yang berbeda, mantan VJ MTV ini justru tak merasa kesulitan meniru Ahok.

“Suara bukan yang tersulit. Entah kenapa warna suara saya mirip. Dulu saya memang pernah kena musibah. Ada tumor di pita suara yang membuat suara saya serak. Ternyata hal Itu jadi berkat karena suara saya jadi mirip Ahok. Tapi saya memang tetap butuh 10 menit untuk mendalami Ahok untuk bisa keluarin suara itu,” ujar Daniel Mananta, saat ditemui dalam acara press screening film A MAN CALLED AHOK, di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (5/11/2018).

Kesulitan Belajar Logat Belitung

Di film itu, Daniel Mananta harus fasih menggunakan logat Belitung. Hal itu lah yang jadi tantangan besar baginya. Demi totalitas dalam berperan, ia sampai rela menjalani proses reading selama enam bulan.

“Yang tersulit justru logat Belitung itu. Logat Belitung itu beda sama Malay. Biarpun sama-sama Bahasa Melayu tapi Melayu Malaysia dan Belitung tuh beda. Saya ada logat Mandarin juga kan,” jelasnya.

Sulit Bayangkan Chemistry Ahok dan Keluarga

Saat mendalami perannya sebagai Ahok, Daniel pun rela menonton setiap pidatonya di Youtube. Selain soal logat dan bahasa, ia juga mengaku cukup kesulitan saat harus membangun chemistry antara Ahok dengan keluarganya. Pasalnya hal itu sama sekali tak ia temukan di media sosial manapun.

“Karena gue nggak pernah lihat mereka dan di Youtube juga nggak ada. Ketika beliau makan malam dengan ayahnya itu kan nggak akan bisa kita dapatkan seperti apa shotnya karena ayahnya Pak Ahok sendiri juga sudah meninggal. Ya itu sih tantangannya,” pungkasnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed