by

Pesona Busana Suku Dayak dalam Miss Supranational 2018

-LIFESTYLE-81 views

Liputanviral – Pesona suku Dayak bakal menemani langkah Puteri Indonesia Pariwisata, Wilda Octaviana Situngkir saat berlaga di kontes kecantikan Miss Supranational 2018. Wilda bakal mengenakan kostum nasional dan gaun malam yang terinspirasi dari adat dan budaya suku yang berkembang di Kalimantan itu.

Di kompetisi national costume atau perlombaan yang memamerkan busana-busana khas negara masing-masing, Wilda bakal mengenakan kostum bertemakan “The Sacred Hudoq” rancangan Dynand Fariz. Pada 2015 lalu, sang desainer pernah membawa Gresya Amanda meraih prestasi Best National Costume lewat busana tema “Mystical Toraja”.

Dengan membawa ambisi meraih prestasi serupa, Dynand mengolah budaya Dayak dalam sebuah kostum yang menawan dan penuh misteri. Kostum seberat 17 kilogram itu terdiri dari topeng, kepakan sayap burung rangkong yang berkilau, dan jubah hijau seperti daun pisang.

Awalnya, Wilda bakal berjalan dengan topeng yang menutupi wajah dan jubah hijau besar yang menutupi pakaian dalamnya. Perlahan, Wilda menyingkap jubah itu sembari memperlihatkan keindahan busana Dayak yang tersembunyi di baliknya. Dia juga membuka topeng dan mengeluarkan parang sambil berpose.

Busana ini sesuai dengan filosofi tarian topeng Hudoq yang berarti ‘menjelma’. Dalam tarian itu, dipercaya sosok sang penjaga akan menjelma dan mengusir hama penyakit serta bencana dalam kehidupan.

Sayap burung rangkong berarti kebijakasanaan, sedangkan bentuk mata besar, paruh, dan mulut terbuka lebar serta gigi mencolok merupakan perwujudan kekuatan dan kehormatan. Sedangkan daun pisang yang mengelilingi badan merupakan bentuk pengharapan kesuburan dan kesejahteraan.

“Hudoq ini makhluk yang menjelma sebelum panen padi sebagai ucapan syukur,” kata Wilda yang merupakan Puteri Indonesia asal Kalimantan Barat ini saat konferensi pers di Jakarta, Senin (5/11).

Selain kostum nasional, Wilda juga bakal bersaing membawakan gaun malam atau evening gown dari desainer Eko Tjandra.

Busana berkilauan bertajuk “Echanting Beauty of West Borneo” itu menggambarkan keindahan dan kekayaan alam, etnis, adat, seni, dan budaya Kalimantan Barat, daerah asal Wilda.

Eko membuat gaun itu menggunakan batik tulis kontemporer yang didesain khusus oleh Gruta Batik Haryanto Yogyakarta. Batik itu mengombinasikan motif ukir khas Kalimantan bergambar pepohonan yang menunjukkan rimbunnya hutan Kalimantan.

Ada pula motif salur-salur meliuk-liuk yang menandakan Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia.

Warna-warna cerah seperti emas, ungu, dan hijau merupakan bentuk akulturasi etnis, seni, dan budaya di Kalimantan Barat.

Selain itu, Wilda juga membawa gaun untuk cocktail dress berwarna putih dari Jacobs Aditya. Gaun mengembang ini terinspirasi dari gaya Hollywood ala Marlyn Montoe pada dekade 1950an. Ada pula tampilan musim dingin dengan jaket berbulu yang tampak seksi rancangan Diana M Putri.

Selain itu, ada juga gaun dari kain tapis asal Lampung karya Defrico Audy dan kebaya dari Intan Avantie.

Selama 20 hari mengkuti karantina Miss Supranational 2018, Wilda setidaknya bakal membawa 40 baju lainnya. Wilda akan mengikuti karantina dan serangkaian kompetisi dari 18 November hingga malam final pada 7 Desember di Polandia

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed