by

Perawatan Kontroversial Cegah Penuaan dengan ‘Darah Muda’

-LIFESTYLE-151 views

Liputanviral – Sebuah perusahaan startup Ambrosia Medical di California, Amerika Serikat mencoba metode baru untuk mencegah penuaan. Perusahaan ini menggunakan darah muda untuk menghindari penuaan pada orang yang lebih tua. Tak ayal, metode yang diberi nama Ambrosia ini menuai kontroversi.

Kata ‘Ambrosia’ berasal dari makanan mitologis dewa-dewa Yunani. Siapa pun yang memakannya akan mendapat umur panjang atau keabadian.

Metode Ambrosia ini kurang lebih sama dengan transfusi darah yang kerap dilakukan pada dunia medis. Hanya saja jika tranfusi darah dilakukan untuk alasan medis karena kekurangan darah, pada Ambrosia transfusi dilakukan untuk mencegah penuaan.

Pendiri Ambrosia Medical, Jesse Karmazin yang kini berusia 34 tahun mendapatkan ide setelah lulus dari Stanford Medical School. Ide itu didapat setelah dia membaca sejumlah penelitian yang menunjukkan saat darah tikus muda ditransfusikan, tikus yang lebih tua menjadi lebih kuat dan kesehatannya membaik.

Karmazin lalu mencobakannya pada manusia. Dia lalu melakukan metode itu pada 35 orang dengan harga US$8.000 atau sekitar Rp112 juta. Karmazin menyebut kebanyakan orang itu berasal dari AS, Eropa, dan Australia.

Karmazin menjelaskan perawatan ini membutuhkan dua liter plasma darah dari donor yang berusia 16 hingga 25 tahun. Darah itu lalu ditransfusikan ke orang yang lebih tua dengan memakan waktu selama dua jam. Hasilnya, Karmazin menyebut hasil metode ini ampuh mencegah penuaan dan memberikan dampak positif pada segala sisi.

“Secara dramatis meningkatkan penampilan, ingatan, dan kekuatan mereka,” kata Karmazin kepada salah satu jurnalis, dikutip dari Oddity Central.

Aksi Karmazin dinilai ilegal lantaran dia tak mendapat izin prosedur dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS atau Food and Drug Administration (FDA).

Di sisi lain, Karmazin mengaku sudah menyelesaikan studi medis mengenai perawatan darah muda ini pada 2018. Namun, hingga saat ini hasil studi itu belum juga dipublikasikan. Ini merupakan salah satu alasan yang membuat perawatan ini dinilai kontroversial, karena tak ada bukti yang menunjukkan kemanjurannya.

“Tidak ada bukti klinis [bahwa perawatan ini akan bermanfaat], dan Anda pada dasarnya menyalahgunakan kepercayaan orang,” kata ahli neurologi dari Stanford University Tony Wyss-Coray kepada Science Magazine.

Sementara itu, menurut peneliti dari University of Barkeley Michael Conboy, transfusi darah memiliki efek samping yang dapat mempengaruhi respons kekebalan tubuh sehingga berisiko mengancam jiwa.

“Efek ini sudah dikenal luas dalam dunia medis, ini juga merupakan alasan kami tidak sering melakukan transfusi karena 50 persen pasien menerima efek samping yang buruk,” ucap Conboy.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed