by

Kisah Jembatan yang Dibangun dari Batu Bacan dan Mahal Harganya

-TRAVEL-40 views

LiputanViral – Jembatan Batu Bacan di kampung ini sudah terkenal ke seluruh Indonesia. Sekarang sewindu sudah jembatan ini dilalui warga, tanpa ada batu yang dicongkel! 

Saat LiputanViral menyambangi jembatan ini, Senin (4/3/2019) pagi, batu-batu berharga itu masih menempel di lantainya. Orang tua, muda, hingga bocah berlalu-lalang seolah-olah menghiraukan mahalnya benda yang mereka injak ini. 

Batu-batu itu selalu diinjak kaki-kaki orang yang bersinggungan dari Arah Desa Amasing Kota ke Amasing Kota Utara, Labuha, Pulau Bacan, Halmahera Selatan. Penduduk melewati jembatan 38 meter ini dengan lurus ke depan. Pagi itu hanya kami yang berjalan di atas jembatan sambil melihat ke bawah.

Terpantau, batu-batu di sini menancap kuat dan rata-rata di semen konstruksi. Tak ada yang terlihat pecah, goyang, atau bekas congkelan. Ada satu alasan mengapa tak ada orang yang berani mencongkel batu ini. 

“Tidak ada yang iseng mencongkel, soalnya ini yang membuat masyarakat sendiri,” kata warga bernama Aryadi (32), biasa dipanggil Yadi. 

Bila orang-orang di luar menyebut Jembatan Batu Bacan, warga lokal sudah mengenal jembatan yang disebut Jembatan Kabamas. Itu adalah nama lama sebelum jembatan ini ditetapkan dan ditempeli batu berharga dari Pulau Kasiruta sejak 2011. Satu tokoh masyarakat bernama Muhammad Abusama mendanai, dan pembangunan dilakukan dengan gotong royong oleh warga. 

Batu-batu segenggaman tangan yang menempel di lantai jembatan berwarna hijau, ada yang hijau muda dan ada yang hijau tua. Yadi mengatakan, batu ini telah berubah warna menjadi semakin cerah dari waktu ke waktu, karena begitulah ‘batu hidup’ dengan ciri khas Bacan yang memudahkan warga, kebanyakan batu ini biasanya terpol oleh langkah-langkah kaki penduduk. Dia menunjuk satu batu seukuran 3/4 komputer tikus yang dipindahkan di jembatan, warnanya hijau muda dengan sedikit gradasi gelap. 

“Yang suka ini mahal ini, Rp15 juta bisa ini. Tapi tetap tidak ada yang mencongkel,” kata Yadi.

Hanya pejalan kaki saja yang melewati jembatan berbentuk lengkung ini. Anak-anak melendot di pagar besi jembatan dan tiang penyangga atap seng. Di bawahnya ada Kali Inggoi yang langsung bermuara ke laut. Perahu-perahu bermesin tempel ditambatkan di pinggir-pinggir sungai. Di kejauhan terlihat atap limasan Masjid Kesultanan Bacan. 

Comment

Leave a Reply

News Feed