by

Indonesia Diprediksi Kehilangan Lapangan Kerja Terbesar di ASEAN, Ini Sebabnya

-FINANCE-44 views

Liputanviral – Teknologi, otomatisasi, digitalisasi membuat kondisi lapangan pekerjaan di masa depan menjadi sulit untuk ditebak. Banyak pekerjaan atau profesi yang bisa saja tergantikan oleh mesin.

World Economic Forum memprediksi bahwa selama empat tahun ke depan, 75 juta jenis pekerjaan akan hilang. Sebagai gantinya, 133 juta pekerjaan baru akan tercipta sebagai hasil dari perkembangan teknologi.

Salah satu kawasan yang mengalami dampak pergeseran jenis lapangan pekerjaan tersebut adalah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Menurut laporan baru dari firma riset Oxford Economics dan perusahaan teknologi AS, Cisco seperti dilansir dari CNBC.com menunjukkan Indonesia akan terkena dampak paling besar dari fenomena pergeseran lapangan pekerjaan tersebut. Hal itu disebabkan Indonesia memiliki jumlah penduduk paling banyak dibanding negara lainnya di kawasan Asia Tenggara.

Data menunjukkan, setidaknya ada 9,5 juta pekerjaan di Indonesia yang akan hilang akibat kemajuan teknologi. Disusul oleh negara Vietnam sebanyak 7,5 juta kemudian Thailand 4,9 juta. Besarnya angka tersebut juga dipengaruhi oleh masih banyaknya tenaga kerja pertanian yang berketerampilan rendah atau masih berbasis tradisional.

Sementara itu, Singapura menjadi negara yang terkena dampak paling rendah yaitu 0,5 juta saja. Kondisi tersebut didukung dengan populasi yang relatif sangat kecil di negara tersebut. Namun dengan sedikitnya populasi tersebut, Singapura menjadi negara yang meraih manfaat paling nyata dari disrupsi teknologi.

“Itu karena Singapura sudah berada di ‘garis depan kemajuan teknologi’ dan bisnis karena itu dapat dengan mudah menerapkan inovasi baru dan proses perombakan dan tidak lagi berada dalam tahap mengejar teknologi,” kata Presiden Cisco untuk Asia Tenggara, Naveen Menon.

Secara keseluruhan, negara-negara yang tergabung dalam ASEAN tersebut mau tidak mau harus mengikuti laju perubahan teknologi. Untuk itu, beberapa negara di kawasan ini akan mencoba untuk beralih dari pekerjaan sektor pertanian ke sektor pelayanan dalam beberapa tahun ke depan.

Transisi itu dapat menghasilkan pemindahan 28 juta pekerjaan. Angka itu setara dengan sekitar 10 persen dari total penduduk yang bekerja di negara-negara itu: Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Yang pasti, pergeseran akan mengarah pada munculnya karier baru di industri yang sedang tumbuh. Tetapi itu juga akan menyebabkan hilangnya 6,6 juta lapangan kerja karena pekerja tidak memiliki keterampilan yang diperlukan untuk pindah ke peran yang berbeda.

Lalu, bagaimana saja tantangan dan peluang kemudian dan cara mencari pekerjaan yang diharapkan di masa depan?

Kesempatan Kerja

Industri-industri yang dipastikan akan menciptakan peluang terbesar di tahun-tahun mendatang adalah mereka yang memanfaatkan sumber daya manusia dengan cara mendongkrak daya beli.

“Ketika teknologi baru diterapkan, keuntungan produktivitas akan menurunkan biaya produksi, yang akan membuat harga barang dan jasa turun, yang pada gilirannya akan meningkatkan daya beli ketika pendapatan yang dibangkitkan meningkat. Ini akan meningkatkan permintaan dan menciptakan lapangan kerja baru,” jelas Menon.

Lapangan pekerjaan baru akan banyak tercipta di sektor industri ritel dan grosir, manufaktur, konstruksi dan transportasi. Sementara itu, sektor TI, keuangan dan seni yang lebih kecil di kawasan itu juga akan ikut mengambil keuntungan dalam transisi tersebut.

Mengingat bahwa mayoritas industri tersebut terampil dan sering berhadapan dengan pelanggan, Menon mengatakan bahwa pekerja yang berharap dapat memanfaatkan karir yang muncul harus mencari peluang untuk mengambil keterampilan baru dari sekarang atau meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Proses itu harus mencakup kombinasi pelatihan profesional dan keterampilan lunak, seperti komunikasi dan pemikiran kritis.

Pekerjaan yang Akan Hilang

Beberapa industri akan menderita kerugian besar, sementara itu, tenaga kerja yang berketerampilan rendah akan tergerus oleh otomatisasi imbas dari digitalisasi. Terutama di sektor pertanian dan padat karya, seperti tenaga pembersih atau cleaning service, operator mesin dan pekerja perdagangan.

Transisi itu, meskipun terjadi secara global, akan sangat sulit bagi para pekerja di Asia Tenggara, suatu wilayah yang masih sangat tergantung pada sektor pertaniannya yang sudah berlangsung lama, kata laporan itu.

“Sektor pertanian menyumbang sekitar 76 juta pekerjaan di kawasan ASEAN-6 (enam ekonomi utama Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara). Sepertiga dari mereka adalah buruh, yang juga merupakan pekerjaan yang paling rentan terhadap perpindahan teknologi karena untuk fokus mereka pada rutin, tugas yang bisa diubah oleh mesin.”

Prospek Masa Depan

Pergeseran besar yang diantisipasi di tahun-tahun mendatang menciptakan tantangan bagi bisnis dan karyawan. Selain tantangan, Menon juga mencatat bahwa ada alasan untuk bersikap optimistis.

“Hasil dari perubahan ini adalah bahwa pekerja di seluruh ASEAN akan diberi tugas dengan nilai yang lebih tinggi dan pekerjaan yang lebih bermanfaat daripada saat ini,” kata Menon.

Itu akan memiliki efek knock-on yang lebih luas untuk Asia Tenggara, yang merupakan rumah bagi beberapa negara dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

“Ini akan membantu menopang pertumbuhan jangka panjang wilayah ini,” tambahnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed