by

Gimana Rasanya Makan Ulat Sagu dan Cacing Nyale Hidup-hidup?

-TRAVEL-325 views

Liputanviral – Berbicara tentang makanan, tentu tidak akan pernah ada habisnya. Apalagi Negara kita, Indonesia memiliki banyak sekali kuliner khas yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Seakan memberi sinyal bahwa kita tidak akan pernah kehabisan ide ataupun bosan dengan makanan yang itu-itu saja. Bosan makan ketoprak, masih ada gado-gado ataupun lotek dengan penyajian yang hampir sama tapi dengan rasa yang berbeda.

Kekayaan rasa serta rempah-rempah Indonesia yang amat terkenal sampai ke luar negeri juga menjadi kebanggaan bagi kita semua. Contohnya, rendang khas Sumatera Barat dan nasi goreng yang menempati posisi pertama dan kedua Best Food in The World. Gilaaaaaaaa Bosku….

Nah, tentunya kuliner juga bermacam-macam jenisnya. Tak hanya bahan-bahan yang basic-nya punya rasa enak yang dijadikan sebagai bahan utama untuk pengisi perut. Kadang ada beberapa bahan yang sedikit aneh, atau bahkan tak lazim dimakan untuk menambah sedapnya rasa masakan.

Misalnya ganja di Aceh, ataupun ulat sagu di Papua yang biasa dimanfaatkan sebagai tumisan. Nah, kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya mencoba aneka kuliner ekstrem yang pernah saya coba selama saya melakukan perjalanan. Sudah siap kantung plastik? Yuk, dibaca!

1. Ulat Sagu Hidup

Apa yang kalian pikirkan jika mendengar kata ulat? Sesuatu yang menggeliat, berbulu, dan terlihat bontet alias bantet (apapun itulah). Hidup di pohon-pohon, dan jika sudah pada masanya akan bertransformasi menjadi kepompong lalu diakhiri dengan kupu-kupu. Sungguh indah ya sepertinya? Anggapanmu akan berubah ketika membaca kalimat berikut ini.

Pernah membayangkan ketika ulat itu menggeliat masuk ke dalam mulutmu, lalu bergerak pelan melintasi ruang antar lidahmu? Lalu secara tak sengaja, ulat itu menyentuh bagian sensitif pada lubang di gigimu, dan otomatis kamu langsung menggigit ulat itu. Bagaimana rasanya?

Ulat pada dasarnya menjadi makanan di beberapa daerah di Indonesia, misalnya Maluku dan Papua. Yang biasa menjadi favorit adalah ulat sagu. Ulat ini diambil dari pohon-pohon sagu yang ada di hutan rimba. Warnanya putih dan besarnya seperti ukuran jempol orang dewasa. Menggeliat kesana kemari, melihatnya saja sudah geli.

Saya mencoba mencari ulat sagu ini saat saya berkeliling Kota Sorong. Pada kedatangan saya yang pertama, saya tak menemukannya, tetapi syukur pada kedatangan yang kedua kali, saya berhasil membeli sekantung ulat sagu segar ini dari seorang Mama-mama (panggilan Ibu bagi orang Timur) di sebuah Pasar di Kota Sorong.

Melihat si ulat joget-joget macam Pole Dancer yang siap diterkam pria hidung belang, saya tak dapat lagi menahan rasa penasaran untuk segera mengunyah ulat sagu tersebut. Bang Jo, seorang teman yang ikut dalam perjalanan saya mencari ulat, lalu merekam detik-detik bagaimana saya mengunyah hidup-hidup ulat yang tak bersalah itu. Dasar, manusia pemakan segala.

Awalnya, saya memutuskan kepala ulat dengan gigi agar si ulat tidak menggigit lidah saya. Hal itu juga dilakukan agar ulat langsung mati dan tidak merasakan sakit saat digilas oleh si gigi geraham.

Ternyata saya salah! Setelah saya memasukkan ulat sagu yang saya kira telah mati, si ulat masih sanggup bergerak di dalam mulut. Saya merasakan sensasi aneh ketika ulat menggeliat di atas lidah saya, semacam ada geli-geli enak gimana gitu. Merasa kegelian, dengan membaca Bismillah, saya langsung menghujamkan gigi geraham saya ke arah si ulat.

Pernah mencoba klepon? Itu yang saya rasakan pertama kalinya. Isi tubuh ulat yang berisi entah lender atau apalah itu, memenuhi rongga mulut saya. muncrat. Tapi bukan rasa manis seperti klepon yang saya rasakan, tetapi rasa hambar sedikit masam dengan bau yang aneh. Baunya agak menusuk, seperti bau tengik. Seketika, saat itu saya ingin langsung muntah, tetapi untungnya saya berhasil mengontrol pikiran agar hal itu tak terjadi.

Pelan-pelan, lendir yang lengket itu mulai masuk ke dalam tenggorokan, menyisakan kulit ulat yang ternyata terasa lembut tetapi berserat. Mungkin inilah yang membuat ulat sagu banyak memiliki serat dan protein, dan menjadi sumber protein yang tinggi bagi para konsumennya.

Bodohnya, percobaan pertama berakhir sia-sia karena Bang Jo lupa menekan tombol record saat saya mengunyah itu ulat. Jadi mau tak mau harus mengulang lagi. Duhh, apes!

2. Cacing Nyale si Cacing Laut.

Kali ini yang saya coba tak kalah menarik dari si ulat sagu. Kalau kamu pernah mengunjungi Lombok atau Sumba, biasanya para nelayan yang tinggal disekitar pesisir tahu betul akan cacing ini. Biasa disebut cacing nyale, cacing ini biasa muncul satu tahun sekali. Nah, kemunculan Nyale merupakan pertanda baik bagi para masyarakat, sebab Nyale memiliki banyak fungsi.

Misalnya, Nyale bisa ditaburkan di sawah karena dipercaya dapat menyuburkan tanah hingga membuat hasil panen berlimpah. Sebagian lagi akan diolah menjadi lauk-pauk, penyedap masakan, antibiotik, bahkan obat kuat karena ternyata Nyale memiliki kandungan gizi yang tinggi.

Ketika menonton kegiatan Pasola di Sumba Barat Daya, ternyata kegiatan mengambil Nyale merupakan salah satu bagian dari festival. Saya dan beberapa sahabat langsung menuju lokasi di mana tempat pengambilan Nyale berlangsung. Di sana, sudah terlihat banyak wisatawan yang siap ikut langsung dalam prosesi pengambilan. Tiba-tiba seorang teman menantangku.

“Yudh, kamu kan pemakan segala. Berani makan Nyale hidup-hidup gak?”

“Emang keuntungannya apa makan Nyale hidup-hidup?”

“Banyak. Proteinnya tinggi. Bisa jadi obat kuat. Gak akan kalah tempur deh.”

“Mau tempur sama siapa, halah.”

Merasa tertantang, saya lalu menghampiri seorang warga yang sedang mengambil Nyale. Saya memberi salam lalu menanyakan tentang Nyale yang ia bawa. Setelah berbasa-basi sedikit, saya secara langsung meminta beberapa Nyale yang ia bawa.

“Bu, boleh saya minta Nyalenya? Mau saya makan hidup-hidup Bu.”

“Lho kok hidup-hidup? Gak dimasak dulu De”

“Nggak deh Bu. Rasa natural lebih mantap.” jawab saya sambil nyengir kuda.

Si Ibu lalu menunjukkan kumpulan Nyale yang dibawanya. Banyak sekali, entah ada berapa ratus cacing nyale yang ibu tangkap. Langsung saja saya mengambil seraup cacing nyale dari si Ibu. Setelah mengucapkan terima kasih, saya lalu segera mengambil smartphone dan menyuruh Tina, sahabat saya untuk merekam video. Belajar dari pengalaman Bang Jo yang lupa menekan tombol record, saya meminta untuk Tina menekan tombol record dari sekarang.

Dengan cepat, saya langsung memasukkan sekaligus Nyale yang saya pegang. Kali ini saya tak membiarkan nyale itu bergerak, karena saya tahu bisa fatal jika Nyale tersangkut di tenggorokan.

Apalagi, mungkin ada sekitar 20 Nyale yang langsung saya telan sekaligus. Ternyata rasa Nyale ini not bad. Hambar total, malah rasa asin dari air laut yang terasa. Rasanya seperti kamu kumur-kumur air garam, tapi bedanya cuma ada ampasnya saja. Dan cacing ini enggak bau seperti ulat sagu sih.

Si Ibu hanya bengong ketika melihat saya memakan langsung ulat nyale, karena biasanya nyale dimasak terlebih dahulu menjadi sayur ataupun tumisan. Hal yang sama terjadi lagi sama seperti saat saya di Sorong.

Yah, begitulah kalau saya disuruh menjabarkan gimana rasanya ulat sagu dan cacing nyale jika dimakan hidup-hidup. Udah cukup bikin pusing bacanya? Jangan pusing, karena banyak hal yang kamu wajib coba, salah satunya adalah mencoba makanan eksotis yang ada di berbagai macam destinasi di dunia. Lain kali, saya akan menceritakan tentang kisah saya menikmati makanan aneh diluar negeri. Enaaaak pol!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed