by

Cerita Kuliner Kaki Lima Singapura yang Kian Punah

LiputanViral  —  Jakarta, Keberadaan lapak jajanan kuliner kaki lima menjadi ‘penyambung hidup’ orang-orang kelaparan di tengah sibuknya aktivitas. Begitu pula lapak makanan di kawasan Far East Square, Singapura, di mana orang bisa menemukan aneka penjual makanan termasuk Nam Seng Noodles & Fried Rice.

Usianya memang tak lagi muda. 90 tahun sudah usia lapak makanan itu. Namun, di usia senjanya ini, lapak itu masih menjajakan sekitar 200 porsi makanan per hari. Lapak milik Leong Yuet Meng itu menjadi penjaja makanan tertua yang masih bertahan di Singapura.

Untuk menjalankan lapaknya, Leong bangun setiap pukul empat pagi. Dia lantas berdoa dan menghitung uang belanjaan untuk kemudian pergi menuju pasar. Di sanalah ia membeli bahan-bahan kebutuhan dagangan.

Baru pada pukul 8 pagi hingga 5 sore waktu setempat, Leong berhadapan dengan panci besar, kegiatan merebus mi, memotong char siu (perut babi panggang), atau menyajikan makanan untuk pelanggan.

Mengutip Food in Lovewanton noodle, venison hor fun (menu daging rusa dengan kuah kental), dan pangsit udang menjadi beberapa menu andalan di lapak ini.

Sudah puluhan tahun Leong menjajakan makanan ramah kantung itu. Kini, dia khawatir tak ada yang meneruskan usahanya saat dirinya tiada.

“Saya takut semua pengalaman yang terkumpul selama bertahun-tahun akan hilang. Tak ada anak saya yang bisa meneruskan,” ujar Leong, mengutip Reuters.

Lee Sah Bah, pedagang kue beras chwee kueh dengan harga kurang dari SGD$2 juga menghadapi persoalan serupa. Pria 60 tahun ini memiliki dua anak perempuan. Keduanya berprofesi sebagai dosen dan akuntan, serta tak tertarik melanjutkan bisnis sang ayah.

“Saya pikir pusat pedagang asongan tidak akan bertahan hingga 50 tahun ke depan. Harus kerja keras, kami harus kerja 16 jam per hari. Anak-anak zaman sekarang mana mau kerja di sini,” ujarnya.

Ancaman kepunahan

Singapura memiliki sekitar 110 pusat pedagang asongan. Pada sekitar 1970-an, pusat-pusat kuliner dibangun demi usaha untuk ‘merumahkan’ pedagang asongan agar tidak mengotori pulau.

Bukan sembarang lapak. Makanan pinggir jalan ini bahkan sudah pernah dicicipi mendiang Anthony Bourdain dan Gordon Ramsay. Mereka mencicipi nasi ayam, makanan khas Singapura.

Tak cuma itu, beberapa kios juga menyajikan sajian sekelas bintang Michelin dengan harta termurah SGD$2 atau sekitar Rp20ribu.

Pemerintah sendiri berencana untuk mendaftarkan budaya pedagang asongan Singapura ke UNESCO untuk warisan budaya tak benda.

Sayang, antusiasme ini tak didukung oleh regenerasi setiap pelapak. Regenerasi yang tak berjalan menjadi persoalan inti budaya pedagang asongan di Singapura.

ak banyak anak atau turunan dari setiap pelapak yang mau meneruskan usaha. Latar belakang pendidikan yang lebih tinggi membuat mereka enggan terbangun di pagi hari, bergumul dengan pedagang-pedagang pasar, dan meracik beragam sajian di dapur.

Tengok saja usia rata-rata pedagang asongan yang berkisar pada 59 tahun. Angka ini jauh di atas usia kerja nasional 43 tahun.

“[Pendaftaran ke] UNESCO hanya satu hal yang perlu kita lakukan untuk menjaga budaya pedagang asongan di Singapura tetap hidup,” ujar perwakilan Badan Warisan Nasional Singapura, Yeo Kirk Siang.

Comment

Leave a Reply

News Feed