by

Ancaman Kesehatan di Balik Lembar Empuk Pembalut

-HEALTH-27 views

LiputanViral – Agni Pratistha punya pengalaman tak menyenangkan soal pembalut. Saat periode menstruasi tiba, pembalut sekali pakai yang dikenakannya membuat kulit di daerah organ intimnya kemerahan dan mengelupas.

Karena takut, Puteri Indonesia 2007 ini mengganti penadah darah haidnya dengan reusable pad atau pembalut kain yang bisa dicuci dan dipakai kembali. “Tapi itu, kan, harus dicuci. Aduh, kurang praktis,” kata Agni di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Tak tunggu waktu lama, Agni pun beralih ke penggunaan menstrual cup, alat penadah darah haid berbentuk cawan yang terbuat dari silikon.

Pengalaman tak menyenangkan bersama pembalut sekali pakai barangkali juga dirasakan oleh sebagian besar wanita. Namun, masih jarang wanita yang menyadarinya. Bahkan tak jarang rasa gatal atau iritasi dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Padahal, ada risiko kesehatan di balik penggunaan pembalut sekali pakai.

Kemunculan iritasi didorong oleh beberapa kandungan yang ada di dalam pembalut sekali pakai. Adalah aseton yang biasa digunakan sebagai pembersih cat kuku. Mengutip LiputanViral, zat pelarut ini bisa menyebabkan iritasi. Dalam tingkatan yang lebih parah, zat ini mampu mengganggu sistem reproduksi.

Hal itu ditemukan dalam penelitian yang dilakukan kelompok konsumen Women’s Voices for the Earth pada 2014 lalu. “Perhatian kami adalah soal produk [pembalut] yang kurang transparan mengenai bahan,” ujar Direktur Sains dan Riset Women’s Voice for the Earth, Alexandra Scranton.

Hasil riset menemukan adanya kandungan aseton dan beberapa zat kimia berbahaya lainnya. Misalnya saja, styrene, yang dikategorikan Organisasi Kesehatan Dunia (PBB) sebagai bahan kimia karsinogen pemicu kanker.

Ada pula chloromethane yang disebut bisa menimbulkan efek negatif pada sistem saraf. Terakhir adalah ethyl chloride yang mampu menimbulkan gangguan otot dalam paparan konsentrasi tinggi.

Ahli kandungan, dr Riyan Hari Kurniawan mengakui adanya dugaan bahaya pembalut sekali pakai untuk kesehatan wanita. Hanya saja, Riyan belum menemukan bukti nyata.

“Namun, bukti-bukti yang ada tidak menunjukkan kesimpulan bahwa keberadaannya [zat kimia] di dalam pembalut atau tampon membahayakan pemakainya,” ujar Riyan melalui surat elektronik pada LiputanViral

Kandungan zat kimia seperti yang disebutkan di atas terindikasi merusak flora normal yang bertugas untuk menjaga keasaman organ intim. Padahal, keasaman berfungsi untuk mencegah tumbuhnya kuman yang menginfeksi organ intim.

Perhatikan Pemakaian

Tak adil rasanya jika kita menyalahkan segala kandungan zat kimia yang ada di dalam pembalut sekali pakai. Sebab, apa pun bentuknya, kebiasaan buruk penggunaan penadah darah haid turut memengaruhi kesehatan alat reproduksi.

Pembalut, misalnya, yang menuntut pemakainya untuk telaten mengganti dalam jangka waktu tertentu. Ahli kandungan, dr Riyani Kadarsari mengatakan, hal ini dilakukan untuk mencegah organ intim terpapar dari pembalut yang lembap dan basah terlalu lama.

“Kalau kondisi [pembalut] basah, bisa timbul iritasi lalu bisa jadi infeksi buat kulit,” kata Riyani.

Lagi pula, apa pun pilihan produk kewanitaan, yang terpenting adalah bagaimana seorang wanita menjaga kebersihan, sekalipun itu untuk penggunaan menstrual cup yang diklaim lebih sehat.

Sebut saja kasus toxic shock syndrome (TSS) pada pengguna menstrual cup yang pernah ditemukan. TSS merupakan kondisi langka berupa keracunan darah akibat bakteri. Penyakit ini muncul akibat penggunaan menstrual cup jangka panjang.

Meski jumlah baru sedikit, tapi kasus itu bisa dijadikan pelajaran bahwa kebersihan kewanitaan sangat perlu dijaga. Riyan mengatakan, wanita perlu melakoni pola hidup sehat dan menjaga area kewanitaannya tetap bersih.

“Menjaga agar tidak lembab, sehabis buang air kecil selalu dikeringkan dengan kain atau tisu, hubungan seksual secara aman, segera periksa ke dokter kandungan jika ada keluhan terkait wilayah kewanitaan seperti keputihan, nyeri perut bawah, atau gangguan haid,” kata Riyan.

Comment

Leave a Reply

News Feed